Friday, April 25, 2014

Ultah berdua

Nizar dan Zaid di barengkan pesta ultah. Nizar ultah ke 6 sedang Zaid Ultah ke 3. Lokasi dipilih di resto AW Giant Rajawali. Lumayan meriah dengan bantuan MC yang cukup atraktif. Jika dibanding di MCD rasanya mending di AW.




Wednesday, August 17, 2011

Nizar dan Zaid part 2

Nah ini adalah moment kebersamaan Nizar dan Zaid pada usia Zaid hampir 1 tahun. Berarti nizar hampir 4 tahun.

Nizar dan Zaid memang memiliki beberapa perbedaan. Perkembangan Zaid rasanya lebih cepat dari pada Nizar. Sekarang saat usia 1 tahun kurang 5 hari, Zaid telah bisa berjalan beberapa langkah, padahal dulu Nizar baru bisa saat usia 1 tahun lebih 3 bulan. Begitu pula masalah gigi. Nizar tumbuh gigi pertama pada usia 1.5 tahun, sedangkan Zaid sekarang sudah memiliki 4 gigi (mau tumbuh lagi 1). Kalau Ummi nya blang, Zaid dalam mengamati sesuatu lebih "tegen" dari pada Nizar. Wah rasanya Nizar di kalah-kalah no. Ga koq, ada kelebihan Nizar. Nizar ga kolokan dulu. Beda sama Zaid yang...dikit-dikit nangis kalau di tinggal Ummi nya. 
Terlepas dari semua itu, doa Abi dan Ummi nya, semoga kalian berdua menjadi anak yang sholeh.

Wednesday, December 29, 2010

Nizar dan Zaid

Kemarin diajak abi jalan ke ITC. Ternyata ke pizza hut lagi. Tapi kali ini ga makan pizza. Abi sama ummi pesan spageti. Nizar emang sukanya model-model mie gtu deh. Zaid ikut, tapi zaid kan belum bisa makan, jadi penggembira aja :D









Lagi pose sama zaid :D


Thursday, September 16, 2010

Menuju ke 3 tahun

Nizar sudah hampir 3 tahun. Tambah lucu aja deh. Semoga nizar menjadi anak yang sholeh. Berbakti pada agama dan kedua orang tuanya. Amiin

Sekarang Nizar dah punya adik. Jadi Nizar harus mandiri. Jangan suka ngerepotin abi sama umi nya. :)

 

Thursday, April 8, 2010

Naik Sepeda

Wahhh, Nizar sudah bisa naik sepeda. Kemarin ummi nya membelikan sepeda roda 4. Pas tadi malem abinya datang, dia pamer. Dia naik sepeda trus di pedal pelan-pelan. Lucunya. Seneng deh liatnya. Jalan pelan-pelan keliling ruangan di dalam rumah. Heheheh.
Padahal waktu di Kediri masih belum bisa tuh.

Tuesday, February 2, 2010

Main laut

Kali ini Nizar renang di laut. Setelah dua kali renang di kolam renang, ternyata mandi di laut berbeda. Selain karena air yang asin, laut gak punya batas, jadi rasanya luassss banget. ^_^
Nizar seneng mandi di sini, pake band. Sayangnya bikin sakit di kulit karena ban nempel sama kulit.
Laut mana sih? Itu loh, pantai pasir putih Situbondo. Berangkatnya dari Kediri, jadi juaauuhhh banget. Capek deh. Berangkat dari pagi jam 7.00 sampai sana jam 2 siang. Istirahat sebentar, langsung kita semua mandi di laut...ah segarnya!! Matahari sudah ga bersinar terik, tambah nikmat rasanya. Alhamdulillah!







Puas berenang sampai menjelang malam. Istirahat sambil makan ikan bakar... Tapi Nizar gag mau diem, lari-lari terus. Enak sih tempatnya luas. Malam-malam pun masih pingin jalan-jalan di pantai yang gelap.



Besoknya, pagi-pagi langsung mandi laut lagi...bener-bener anak laut ^_^
Abi juga mandi dan berenang sampai jauh...aku ditinggal sama ummi. Ummi marah loh ^_^


Tuesday, January 26, 2010

DIPONEGORO, SANG MUJAHID

Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.
berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, antara pasukan penjajah Belanda melawan penduduk pribumi yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas berjumlah 8.000-orang asal Eropa.harus disebut demikian karena gubernemen Hindia Belanda pada masa itu merekrut ribuan orang yang berasal dari berbagai negeri di Eropa yang terdiri dari bekas tentara yang terlibat dalam perang Napoleon (jadi semcam pasukan multinasional zaman sekarang ). Demikian pula tercatat sebanyak 7.000 orang serdadu kolonial Hindia Belanda yang berasal dari berbagai daerah Indonesia, yang tewas.Perang Diponegoro juga menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda.

Perjuangan Diponegoro dibantu seorang ulama lokal Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
Pada tahun puncak peperangan Belanda telah mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu jumlah konsentrasi pasukan yang luar biasa buat masa itu, bagi suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur. Sedemikian serius Kolonial - imperialis Belanda menghadapi perlawanan rakyat yang bersatu padu dibelakang Pangeran Diponegaro. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metoda yang dikenal dalam sebuah perang moderen. Baik metoda perang terbuka (open war fare), maupun metoda perang geri/ya (geurilia war fare) yang dilaksanakan melalui taktik taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang selama ini belum pernah dipraktekkan, perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta profokasi oleh pihak kolonial imperialis; terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. Perang juga didukung kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata - matai; mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya. Untuk dapat menyusun strategi dan taktik pertempuran. Diponegoro, bukan hanya namaseorang pribadi. Bukan sekadar gelar seorang pangeran tingkat tinggi. Tapi Ia adalah suatu Semangat atau Spirit yang menggelora dalam hati tiap pribadi, yang ingin menegakkan keyakinannya.

Namun menurut Louw,sejarawan belanda, sebab-sebab perlawanan diponegoro dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: ?Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.?

Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. ?Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi? (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002)).

Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

bahkan diponegoro sendiri sebenarnya menolak gelar-gelar feodal dan jabatan kebangsawanan seperti pangeran dan sebagainya dalam hubungan dengan orang2 kafir,Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: ?Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).

sebab beliau memang sudah belajar Islam secara serius sejak kecil,Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian sederhana (zuhud).

Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat AlMustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. Tak heran jika sejarawan belanda Louw dalam De Java Oorlog Van sampai menulis: ?Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.?

Pangeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Diponegoro adalah sosok pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di bumi nusantara.


source: berbagai sumber